CERPEN

 



Sore di Jalan

Oleh : F.E.I.R


      Sore hari sepulang sekolah, Zal segera mengambil sepedanya di parkiran. Setelahnya, Zal mulai mengayuh sepedanya dengan kecepatan sedang, sembari bersenandung kecil.  Zal sedang dalam suasana hati yang baik saat ini, karena dia baru saja mendapatkan nilai ulangan harian yang sempurna. Laju roda sepeda Faiz beraturan, bahkan sesuai ritme lagu yang sedang dinyanyikan  Zal.

     Sepeda itu membawa  Zal melewati lika-liku jalan beraspal di kota tempat SMA-nya, di sepanjang jalan  Zal melihat adanya proyek perbaikan saluran drainase. Suasana sore hari yang ramai dan padat, ditambah dengan ricuhnya proyek pembangunan drainase, menambah hiruk-pikuk kota di sore hari ini. 

     Kini,  Zal telah sampai di jembatan penghubung desa-kota. Jembatan ini dijuluki sebagai 'Jembatan Abu-abu'. Jembatan ini dibangun sebagai sarana memudahkan transportasi masyarakat desa yang akan ke kota, begitupun sebaliknya.  Zal berhenti sejenak di pinggir jembatan, dia memerhatikan sekelilingnya. Air sungai ternyata mulai pasang lagi, mungkin disebabkan hujan semalam suntuk yang terjadi kemarin. Zal berpikir, sebelum ada jembatan,  Zal pasti menaiki perahu. 
Dan itu cukup menantang adrenalin, karena saat musim penghujan, sungai akan menjadi sangat besar(pasang). 
     
     Armada perahu harus sigap memperbaiki papan bambu yang biasa disebut 'ntrak', supaya kendaraan bisa masuk ke perahunya. Sungai yang besar tentunya akan membuat  Zal takut tentang terjadinya hal-hal yang tidak ia inginkan, misalkan tragedi perahu terbalik. Belum lagi,  Zal juga berpikir tentang berapa jumlah buaya yang menghuni sungai Bengawan Solo tersebut. Sudah... Stop... Cukup sampai di sini  Zal bernostalgia, hari sudah semakin sore dan menuju petang. 

      Zal mulai menuruni jembatan yang cukup curam ini. Inilah saat-saat perjalanan yang paling  Zal sukai. Menuruni jembatan dengan laju roda cepat, dan atmosfer yang sangat mendukung. Sinar cahaya kuning dari matahari yang beradu dengan berbagai burung dan serangga yang berterbangan di sisi kanan serta kiri jembatan abu-abu. Angin yang bertiup kencang menghempas tepat di tubuh dan muka  Zal menambah kesejukan hingga menembus pikiran. Benar-benar surga dunia.

     Sepeda telah membawanya memasuki jalan pedesaan, ini masih harus melewati kurang lebih dua desa untuk sampai di rumah tempat tinggalnya.  Zal menggerutu di dalam hati karena kondisi jalan pedesaan yang saat jauh dari standar kelayakan. Jalan paving yang sudah berlubang di mana-mana, becek yang terjadi karena sisa hujan, dan batang padi yang tercecer di sepanjang jalan dan menyebabkan bau khas. Bagi yang bertanya, mengapa batang padi tercecer di sepanjang jalan?
 
    Hal itu disebabkan oleh terjadinya panen raya di sawah-sawah pinggir jalan. Oke, ini menyebabkan suasana hati Faiz menjadi turun drastis.
Zal menyadari berbagai alat berat yang sedang beroperasi di sawah-sawah pinggir jalan. Ada mesin penggiling padi yang bekerja dengan cepat dan cekatan, dan juga buruh-buruh pengumpul serta pembawa padi yang sudah dipanen tersebut. Truk pengangkut padi sudah siap sedia di pinggir jalan. Sialnya, truk-truk inilah yang menyebabkan jalanan semakin sempit. 

      Jalanan penuh sesak karena dihimpit oleh truk-truk besar pengangkut padi di kanan-kiri jalan. Tidak jauh dari truk-truk tersebut, terlihat beberapa sosok yang berperawakan tidak begitu tinggi, perut yang membuncit, memakai kacamata dan topi, tidak lupa buku catatan dan bolpoin yang bertengger di kedua tangan mereka. Mereka itulah mafia padi. Oknum-oknum yang memonopoli hasil panen warga, dan ini yang selalu menjadi penyakit bagi sistem pertanian di Indonesia. 

     Zal akan membocorkan sisi gelap pertanian di Indonesia. Zal kini telah menyadari, mengapa generasi penerus petani sangat jarang atau bahkan tidak ada yang ingin menjadi petani. Tadi di sekolah, saat pembelajaran bimbingan OSN geografi, Zal belajar tentang sistem pertanian di Thailand, salah satu penghasil padi dan pertanian yang baik di dunia. Ternyata, sistem pertanian Thailand sangat berbeda dengan sistem pertanian di Indonesia.

     Di Thailand, sektor pertanian sangat didukung oleh pemerintah. Mungkin hal itu terjadi karena pemerintah begitu menyadari bagaimana sengsaranya menjadi petani. Di negara gajah putih ini, sistem pertanian sudah sangat terstruktur mulai dari sejak pembibitan benih padi. Segala hal dalam pengembangan dan pertumbuhan padi telah disoroti pemerintah. Pemerintah mengakomodasi kebutuhan para petani dari masa tanam hingga masa panen, sehingga hal itu tidak akan merugikan para petani-petani baik dalam skala besar atau kecil. Sangat berbeda dengan pertanian Indonesia kan?

     Di Indonesia, memang benar jika petani mendapat bantuan dalam bentuk benih dan pupuk oleh pemerintah. Namun, bukan hal itu saja yang patut disoroti pemerintah. Ada hal yang lebih penting dan wajib disoroti pemerintah, yakni pada saat musim panen. Faktanya, setiap musim panen, datang oknum-oknum berperut buncit yang akan 'membeli' padi-padi dari petani-petani tersebut.

     Pada awalnya, saat padi masih belum sepenuhnya siap panen, oknum-oknum dan petani telah membuat kesepakatan pembelian dengan harga yang cukup tinggi. Akan tetapi, oknum-oknum tersebut tidak segera memberikan uang, dan menunggu beberapa saat hingga akhirnya terjadi hujan lagi yang menyebabkan 'kecacatan' hasil panen menurut oknum tersebut, sehingga mereka hanya akan membayar separuh harga atau justru membayar hasil panen tersebut dengan harga yang sangat murah.

    Byur... Zal terkejut dan sadar dari lamunannya tentang padi. Barusan, ada sepeda motor yang melaju dari arah depan dengan kecepatan tinggi sehingga melewati jalanan becek yang berlubang. Air kotor dari becekan yang dilewati motor tersebut mengenai baju bagian samping Zal. Seragam putih yang dikenakannya, sekarang sudah menjadi kecoklatan separuhnya. 

    Oke ... suasana hati Zal sangat buruk sekarang. Ia ingin mengumpati pengendara motor tadi, tapi itu sama sekali tidak berguna, jadi Zal memilih diam saja sambil mempercepat kayuhan sepedanya. Zal berharap ia bisa segera sampai ke rumah.

    Zal semakin tergesa mengayuh sepedanya, bahkan mungkin saja laju sepeda Zal ini tidak kalah dengan laju sepeda motor kecepatan 40km/jam. Hanya satu hal yang dia pikirkan. Rumah. Zal benar-benar ingin segera sampai rumah. Zal ingin segera beristirahat. Jika dalam situasi seperti ini, entah mengapa perjalanan pulang terasa semakin lambat.

     Tapi sepertinya, hari ini memang ditakdirkan menjadi salah satu hari yang seru di hidup Zal. Zal kaget setengah mati ketika tiba-tiba seorang pengendara sepeda yang berada tepat didepannya berhenti secara mendadak. Kriett....Zal menekan tuas rem sepedanya secara spontan. Bayangkan, saat sepeda sedang melaju dengan kecepatan sangat tinggi, rem ditekan secara spontan. Otomatis, Zal hampir terjungkal dari sepedanya. Untungnya, Zal memiliki kaki yang mendukung tumpuannya.
     
    Pelaku yang membuat Zal hampir terjungkal itu turun dari sepeda nya sendiri. Zal sangat ingin memakinya, namun Zal terdiam karena melihat Ira (pelaku tersebut) memungut sebuah paku cor yang kira-kira berukuran 5cm dan berada di jalan tersebut. Ira, seorang siswi SMP yang biasa dipanggil Ira. Zal mengenalinya. Zal paham, Ira memungutnya supaya paku tersebut tidak membahayakan pengguna jalan.

     Ira menoleh ke arah Zal dan berkata, "Maaf Mas, Ira tadi berhenti mendadak karena melihat paku di jalan ini. Sangat berbahaya jika pakunya mengenai roda kendaraan." Zal menghela nafas pasrah dan menjawab, "Iya, gapapa. Tapi lain kali perhatikan dulu kendaraan di sekitar. Kalau kamu asal berhenti, yang ada kamu ditabrak kendaraan lain dari belakang." Ira menganggukkan kepalanya dan tersenyum. 

     Setelah tragedi tersebut, Zal dan Ira melajukan sepeda mereka kembali. Kebetulan rumah mereka searah. Jalan desa yang agak lengang di sore hari, dimanfaatkan Zal untuk menyejajarkan laju sepedanya dengan Ira. Zal mengajak Ira berbincang-bincang. Zal bertanya, "Kamu kenapa baru pulang? Kok sore banget?" Bukan tanpa sebab Zal bertanya demikian, karena setahunya anak SMP seperti Ira pulang sekitar pukul 14.00 WIB. Ira menoleh sambil tersenyum dan menjawab, "Iya Mas, tadi ada latihan senam untuk tugas PJOK di sekolah, jadinya pulang sore." 

     Zal dan Ira terus berbincang, sebelum dikagetkan lagi dengan aksi Ira yang mengerem sepedanya dengan mendadak lagi. Karenanya, Zal ikut menghentikan sepedanya juga. Zal bertanya, "Kenapa? Kok berhenti?" Mata Ira fokus terhadap satu titik di depannya, dan menjawab "Ada mangga, Mas. Ira mau ambil.". Zal yang paham, segera turun dari sepeda dan mengambil mangga yang jatuh di jalan tersebut, dan memberikannya pada Ira, "Ini mangganya. Kamu lagi pengen rujak mangga? Kalau mau, ambil saja di rumahku. Aku punya banyak mangga, baik yang muda ataupun yang sudah matang." Namun yang membingungkan, Ira menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Zal.

     Ternyata, Ira ingin mengambil mangga tersebut untuk disisihkan ke pinggir jalan, dengan maksud agar mangga tersebut tidak membahayakan pengguna jalan. Zal tersenyum lagi melihat betapa polosnya wajah manis Ira yang baik hati ini. Keduanya kembali melajukan sepedanya, setelah terhambat peristiwa kecil tadi. Tidak lama kemudian Ira berkata, "Tapi, Ira sepertinya benar-benar ingin makan rujak mangga. Ira boleh mampir ke rumah Mas Zal? Mau minta 2 buah mangga muda. Sekalian bersilaturrahmi kepada Om Aryo dan Tante Sri." Hei......formal sekali manusia satu ini. Zal mengangguk, "Tentunya boleh dong, ayo bergegas, sebelum adzan maghrib." 



SELESAI
NOTE : DILARANG COPAS TANPA MENCANTUMKAN SUMBER DAN PENCIPTA CERITA ASLINYA! 
©2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ARTIKEL BELA NEGARA SESUAI PROGRAM STUDI